Jumat, 25 Oktober 2013

Berujung Penyesalan (MAAF)

            Mario memandangi langit biru berawan dengan perasaaan kesal. Saat ini dia sedang berada di tempat favoritnya, taman kompleks yang berada tidak jauh dari rumahnya. Mario baru saja bertengkar lagi dengan kakaknya, Markus. Mario dan Markus memang sering sekali bertengkar, baik karena masalah sepele sekalipun. Usia mereka hanya berjarak dua tahun. Markus adalah kakaknya.
“Lo apain motor gue sampe lecet gini!!” Teriak Mario pada Markus.
“Tadi gue pinjem buat ke supermarket, motor gue lagi di bengkel. Terus pas di jalan mau pulang, ada cewek ga sengaja nyenggol tuh motor. Lecet deh.”Jawab Markus enteng.
“Enak aja lo ngomong. Lo minta ganti rugi ga ke dia?”
“Nggak. Tampangnya ketakutan gitu, gue kesian, yaudah gue suruh pulang aja.”
“Apa??? Sok bermurah hati banget lo! Ini motor gue. Tanggung jawab dong, lo!”
“Iya, iya. Besok gue bawa ke bengkel tempat motor gue dibenerin.”
“Cih! Gara-gara lo motor gue jadi ikutan masuk bengkel. Mati aja deh lo!”
Markus hanya diam saja. Bukan hanya sekali dia mendengar kalimat terakhir dari adiknya itu. Jika sedang marah, Mario memang selalu melontarkan kalimat yang sama.  Dia tahu dia memang bersalah. Itu memang motor kesayangan adiknya, tapi dia tidak mungkin tega meminta ganti rugi pada gadis yang telah menorehkan lecet di bagian belakang motor itu. Biarlah dia saja yang menggantinya. Toh, dia memang tak berhati-hati.
“Terserah lo deh. Yang penting gue ada niat tanggung jawab.”
“Halah!!” Mario pergi meninggalkan Markus.
            Mario kembali ke alam sadarnya. Dia memandang ke sekeliling. Setiap sore memang banyak orang yang datang ke taman ini. Baik anak-anak kecil yang bermain kejar-kejaran, anak remaja yang bermain sepak bola, atau orangtua yang hanya sekedar ingin jalan-jalan. Dia merasa malas kembali ke rumah, tepatnya malas melihat muka abangnya yang menyebalkan itu. Akhirnya dia memutuskan untuk lebih lama lagi di tempatnya sekarang.
* * *
            “Halo, bro. Jemput gue, dong. Motor gue lagi di bengkel nih. Iya.... Gue udah siap-siap kok... Oke, gue tunggu ya.” Mario memutuskan sambungan teleponnya.
            “Kamu bareng sama Alan, Yo?” Mama Mario yang sedang menyiapkan sarapan mendengar percakapan Mario di telepon.
            “Iya, Ma.” Mario menjawab singkat, lalu meminum susu putihnya.
            “Kenapa nggak minta dianter sama Markus aja?”
            “Nggak ah, nggak sudi.” Kata Mario ketus.
            “Hus! Itu abang kamu Mario!” Mama Mario terdengar jengkel, bosan dengan setiap perkataan kasar dan ketus yang selalu keluar dari mulut Mario bila menyangkut abangnya.
            “Yee, lagian gue juga ogah nganterin lo.” Markus yang baru keluar dari kamarnya dari lantai atas nimbrung ke dalam pembicaraan.
            “Cih!” Kata Mario sinis.

            Tinnn..Tinnn... Alan yang sudah sampai di depan rumah mereka pun membunyikan klakson menandakan kehadirannya.
            “Ma, Mario berangkat dulu ya. Alan udah dateng tuh.” Mario beranjak dari tempat duduknya lalu mencium pipi mamanya.
            “Iya, hati-hati ya. Pulangnya jangan lama-lama.”
            “Beres, Ma..” Mario melengos pergi melewati bangku Markus, seakan tak ada orang di sana.
            Mamanya hanya menghela nafas melihat kelakuan Mario. “Sampai kapan kalian mau musuhan begitu? Kalian itu saudara kandung. Nggak baik kalo terus-terusan berantem.”
            “Sampai dia dewasa, Ma. Dia belum cukup dewasa buat ngendaliin emosinya.”
            “Seharusnya kamu juga ngajarin dia gimana caranya jadi dewasa, bukannya malah ngeladenin setiap omongan pedasnya.”
            “Biar dia belajar sendiri aja, Ma. Aku berangkat dulu ya, Ma. Ntar telat.” Markus menghabiskan susunya dan menghampiri mamanya lalu mencium kedua pipi Mamanya.
            “Iya, hati-hati ya. Jangan keluyuran.”
            “Iya, Ma.”
           
            Markus mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Karena jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh, jalanan mulai macet. Sekarang Markus duduk di bangku kuliah jurusan kedokteran semester kedua. Jarak kampus dari rumahnya hanya membutuhkan waktu setengah jam. Markus masih memikirkan perkataan mamanya di meja makan tadi. Rupanya dia juga tidak betah selalu bertengkar dengan Mario. Selama ini dia selalu menganggap kata-kata kasar Mario hanyalah perasaan kesal yang sementara. Karena dia pun tak pernah benar-benar membenci Mario. Bagaimanapun juga, Mario adalah adik kesayangannya. Dulu, sikap Mario tak pernah sekasar itu pada dirinya. Tapi belakangan ini, dia lebih sering memperbesar masalah dengannya.
            Jadi, Markus hanya bisa membalas kata-kata Mario dengan sindiran ataupun ungkapan-ungkapan yang menyiratkan tak kepeduliannya terhadap omongan yang di lontarkan Mario. Padahal sebenarnya dia merasa sangat terluka jika Mario mengucapkan kalimat makian yang berujung dengan menginginkan kematiannya. Dia tidak habis pikir, apa sih yang membuat Mario begitu membenci dirinya.
           
* * *
            “Kenapa lo ga bareng aja sama abang lo?” Alan yang sedang mengendarai motor membuka pembicaraan.
            “Yaa, males aja. Jijik gue deket-deket dia.”
            “Lo kenapa sih? Kayaknya anti banget sama si Markus. Padahal dia abang kandung lo. Udah kayak virus aja dia lo anggep.” Kata Alan geleng-geleng kepala, heran dengan sikap Mario.
            “Bodo amat. Yang penting gue jijik.”
           
Alan hanya mengangkat bahu. Tak mau terlalu ikut campur. Mario pun ikut diam, dia sebenarnya pun heran dengan sikapnya sendiri. Karena dulu dia sangat menyayangi abangnya itu. Dia selalu meniru apapun yang di  lakukan abangnya. Dia juga minta diajarkan ini-itu dengan Markus. Tapi semenjak dia mengetahui bahwa Alina, wanita yang ditaksirnya sejak SMP menyukai Markus, dia pun mulai membenci Markus. Dia selalu berusaha menarik perhatian Alina, tapi Alina malah mengabaikannya dan malah terus bertanya tentang Markus. Barulah Mario sadar bahwa Alina menyukai Markus.
Sebenarnya Markus tak pernah mengetahui bahwa Alina suka padanya, karena Mario takkan pernah sudi menyampaikan segala macam salam, surat atau kado-kado yang dititipkan Alina padanya untuk Markus. Dia selalu menyimpan semua kado-kado dan surat-surat itu di dalam kotak yang ada di dalam lemari pakaiannya.
Dan semenjak saat itulah Mario selalu mengucapkan kata-kata bahwa  lebih baik Markus mati saja. Karena menurutnya, jika Markus tak ada maka Alina akan berpaling padanya. Meski ia tak pernah benar-benar mengharapkan kematian Markus, tapi entah mengapa dia tidak bisa menahan lidahnya untuk tidak mengatakan kalimat beracun itu.
* * *
Mario sedang bermain basket di lapangan yang berada tidak jauh dari taman kompleks di sekitar rumahnya. Bila sedang tidak ada kegiatan dia akan pergi bermain basket sendirian. Dulu dia sering bermain dengan Markus, tapi karena perasaan pribadinya dia berhenti mengajak Markus bermain bersama. Saat shoot-an nya meleset dari ring dan memantul ke papan ring, bola itu pun terlempar ke arah seseorang. Dan orang tersebut berhasil menangkapnya sehingga gagal mengenai wajah mulusnya. Orang itu ternyata Markus. Tapi ada yang berbeda dari penampilannya. Bukan pakaiannya. Tapi wajahnya. Wajahnya terlihat pucat dan kaku.
Mario mendengus kesal melihat siapa yang menangkap bolanya. Semangat melanjutkan permainannya pun musnah seketika. Dia mendekati Markus, dan mengulurkan tangannya tanda meminta kembali bolanya.
“Siniin bola gue.” Katanya diiringi pandangan sinis.
“Kenapa udahan? Takut lo ngelawan gue?” Tanya  Markus sekaligus menantang.
“Siapa yang takut?!! Gue Cuma ga sudi main sama orang kayak lo.”
“Yaudah, kalo ga takut, kenapa ga mau ngelawan gue?”
“Gu-e ng-gak SU-DI! Pergi lo! Mati aja lo sana!” Ucap Mario dengan penekanan di setiap kata-katanya.
Markus terdiam sesaat. Lalu dia men-dribel bola nya ke arah ring, dan memasukkannya ke dalam ring dengan mulus. Kemudian berbalik ke arah Mario sambil menangkap kembali bolanya.
“Gue tantang lo one by one. Kalo gue menang, lo harus kasih penjelasan ke gue kenapa lo benci banget sama gue. Kalo gue kalah, gue bakal berhenti muncul dihadapan lo.” Markus mengucapkannya dengan nada serius dan menatap ke arah Mario dengan pandangan meyakinkan.
Mario terhenyak. Dia menelan ludah. Apa maksud perkataan Markus? Jika dia kalah, dia tidak akan muncul lagi dihadapannya? Apa maksudnya? Apa dia akan pindah rumah? Pindah ke luar kota? Atau apa? Dia bingung namun tak mau kelihatan perduli. Lalu dia mengangguk menyetujui.
Permainan pun dimulai. Mario dan Markus adalah pria-pria yang jago dalam bidang olahraga. Terutama basket. Mereka dengan mudah men-dribel bola dan kemudian menembaknya tepat ke arah ring dengan mulus. Yang menjadi kesulitan adalah cara merebut bola itu dari lawannya masing-masing. Skor sudah menunjukkan angka 19-14, Markus yang memimpin. Tentu saja, Markus lah yang pertama kali bisa bermain basket, dan mengajarkan Mario setelahnya.
Mario kewalahan mendapatkan bola itu dari Markus. Entah mengapa tampaknya Markus serius sekali ingin memenangkan permainan ini. Hingga akhirnya skor menunjukkan angka 22-18. Permainan dimenangkan oleh Markus. Mario kelelahan dan seakan kehabisan nafas. Markus tak kalah lelahnya. Mereka memutuskan untuk membeli minuman pada penjual di pinggir lapangan.
Setelah menghabiskan minuman mereka masing-masing, Markus kembali menatap adiknya serius.
“Jadi, apa jawaban lo?” Markus menatap adiknya lekat-lekat.
“Lo pengen banget tau alesan gue?” Kata Mario acuh tak acuh. Markus hanya mengangguk.
Mario menghela nafas. Mungkin memang sudah waktunya Markus tahu dasar dari semua kekesalannya selama ini.
“Lo tahu kan gue suka sama Alina sejak SMP?” Markus mengangguk dua kali.
“Lo tahu kenapa sampe saat ini gue ga jadian sama dia?” Markus menggeleng, masih penasaran ke arah mana pembicaraan ini.
“Itu gara-gara LO! Alina sukanya sama lo. Dan bukan gue! Tiap gue deketin dia, dia cuma nganggep gue angin lalu. Dan selalu bersemangat tiap kali ngomongin elo! Tiap ketemu gue, dia selalu nitip salam buat lo. Dia juga kalo nyariin gue Cuma buat nitipin surat cinta sama kado buat lo. Dan itu terjadi nggak Cuma sekali dua kali. Tapi ber-kali-kali!” Mario mendengus kesal, menarik nafas untuk melanjutkan kata-katanya. Sedangkan Markus hanya terdiam, berusaha mencernah setiap kalimat yang terlontar dari mulut adiknya itu.
“Tapi gue ga pernah nyampein surat-surat atau kado-kado itu ke lo. Karena gue ga pengen ntar lo malah suka sama dia terus jadian sama dia. Gue juga ngarep biar dia berhenti ngirimin lo surat sama kado setelah tau lo nggak ngerespon sama sekali. Tapi nyatanya, dia masih aja rajin nitipin ke gue. Makanya gue selalu ngarepin biar lo itu nggak usah ada aja, biar nggak ada orang lain yang dilirik sama Alina selain gue.” Mario menyelesaikan kalimatnya dengan memandang Markus dengan tatapan “Puas?”
“Jadi cuma gara-gara itu?” Tanya Markus setelah terdiam beberapa saat.
“He’eh.” Jawab Mario singkat.
“Ckck. Pikiran lo sempit banget sih! Ga mungkin lah gue suka sama orang yang disukain adek gue sendiri. Lagian Alina udah gue anggep kayak adek sendiri. Sama kayak lo. Picik banget otak lo mikir gue bakalan ngambil dia dari lo.” Markus menggeleng-geleng heran.
Mario menatap Markus tak percaya. Benarkah yang dikatakan Markus? Dia tak pernah berniat mengambil orang yang disukainya? Benarkah begitu? Kalau benar, betapa bodoh dirinya selama ini. Membenci kakaknya hanya karena pikirannya yang tidak beralasan. Kemudian dia mendekati abangnya itu dan memeluknya erat.
“Maafin gue, bang. Gue udah mikir yang nggak-nggak tanpa tahu pendapat lo. Gue terlalu egois, gue ga pernah ngasih tau lo alesan gue selalu ngomong kasar sama lo, padahal lo ga seperti apa yang gue sangka selama ini. Gue terlalu mandang rendah rasa persaudaraan lo ke gue. Gue dosa besar sama lo, bang. Maafin gue.” Mario memeluk Markus semakin erat, berusaha mati-matian menahan air matanya agar tak meluncur dari kelopak matanya. Ia tak ingin terlihat cengeng dihadapan abangnya.
“Iya udah, gapapa kok. Gue ngerti perasaan lo. Gue cuma pengen tahu aja alesan lo ngehindarin gue selama ini. Dan sekarang gue udah tahu. Lo ga perlu kuatir lagi, karena gue ga bakal jadi alesan buat Alisa nolak lo.” Kata Markus sambil menepuk-nepuk punggung Mario.
“Maksud lo apa?” Kata Mario sambil melepaskan pelukannya. Dahinya berkerut-kerut. Sejak tadi abangnya ini selalu saja mengatakan bahwa dia akan pergi dan semacamnya.
“Karena gue bakal pergi jauh. Dan ga bisa nemenin lo sama nyokab lagi. Lo jagain dia ya, jangan bikin dia marah sama sedih mulu. Janji lo sama gue?”
“I... Iya.. Tapi, lo mau kemana emang?” Tanya Mario dengan nada gemetar.
“Ntar lo juga tahu. Udah sore nih, pulang yuk.” Ajak Markus sambil merangkul pundak Mario. Entah mengapa, Mario merasa tangan Markus begitu dingin. Dingin sedingin es.
* * *

            Mario hampir sampai di rumah, ia berjalan lebih dulu karena merasa gerah dan lapar. Dia sudah tidak sabar ingin sampai ke rumah. Namun, saat berada di di depan seorang tetangganya yang berjarak dua rumah dari rumahnya, dia mendadak berhenti. Tubuhnya kaku. Tenggorokannya tercekat. Matanya nyalang menatap ke arah bendera kuning yang berada di depan pagar rumahnya. Dia mencegat salah seorang yang baru saja melewatinya, tampaknya orang itu baru saja dari rumahnya.

            “Si.. siapa... Siapa yang.... ninggal, Bu?” Tanya Mario terbata-bata. Seakan tak yakin dengan pertanyaannya sendiri.
            “Yang tabah ya, Nak Rio. Abang kamu, Markus, dia mengalami kecelakaan sepulang dari kampus. Dan meninggal di tempat. Mayatnya baru saja sampai. Temanilah mamamu, dia sangat histeris tadi.” Ibu itu menepuk-nepuk punggung Mario pelan lalu melanjutkan perjalanannya.

            Mario masih terdiam di tempat. Kakinya terasa kaku. Tak bisa bergerak sedikit pun. Lalu dia berusaha sekuat tenaga membalikkan badannya. Dia menoleh ke belakang. Tak ada siapapun. Tak ada Markus. Benar-benar tak ada. Padahal ia yakin sekali, sepuluh menit yang lalu Markus masih berjalan di belakangnya.
            Markus berlari ke arah rumahnya. Dan sesampainya di pintu rumah, dia melihat mamanya menjerit histeris melihat anak sulungnya yang terbujur kaku di dalam peti. Mario berjalan perlahan ke arah mamanya, langkahnya sangat pelan dan tidak bertenaga. Kakinya bergetar hebat serasa ingin jatuh. Dan akhirnya ia terjatuh di dekat mamanya. Ia menatap kosong ke arah mayat abangnya, Markus.
            Apa-apaan ini? Baru tadi gue main basket sama lo bang! Baru tadi gue baikan sama lo! Barusan juga gue minta maaf sama lo! Lo menang bang! Lo menang! Lo ga perlu pergi dari hadapan gue!! Gue udah ngebayar kekalahan gue. Lo ga perlu bayar kekalahan lo karena lo menang!! Mario menangis sejadi-jadinya. Semua perasaan bersalahnya sejak pengakuan tadi tumpah saat itu juga.
            Kenapa lo ninggalin gue, bang! Kenapa lo tega bikin mama nangis! Mario terus memaki dalam hatinya. Ia tak mengucapkan apa-apa selain menangis. Tubuhnya bergetar hebat menandakan tangisan yang tumpah merupakan penyesalan dan rasa kehilangan yang begitu dalam. Ia tidak menyangka perkataan kasarnya selama ini akan menjadi kenyataan. Ia sama sekali tak benar-benar menginginkan abang satu-satunya ini mati. Andai saja ia tahu bahwa semua perkataannya berakibat seperti ini, ia tak akan pernah mengucapkan kalimat beracunnya itu.
            “Maafin gue, bang. Maafin gue.” Mario memeluk mayat Markus untuk yang terakhir kalinya. Mama Mario pingsan setelah menangis dengan histeris dan masih shock dengan keadaan putra sulungnya.
           
* * *
            “Gapapa, Yo. Ini bukan salah lo. Mungkin udah saatnya gue menghadap sama yang di atas. Gue datengin lo karena gue butuh penjelasan dari lo sebelum gue pergi. Sekarang gue udah tahu semuanya dan gue bisa pergi dengan tenang. Tepatin janji lo, Yo. Jaga diri lo baik-baik dan jaga mama.” Mario mendengar suara Markus tetapi tak menemukan keberadaannya. Setelah suara itu tak terdengar lagi, dia kembali menangis.


Karya    : Lidya Christin Silalahi
Sumber : http://martabakmietelor.blogspot.com/2013/07/berujung-penyesalan-maaf.html

Haruskah Kusimpan Sendiri?

Mencintai memang tak harus memiliki. Dengan melihat orang yang kau cintai bahagia itupun sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagimu. Ya, itulah yang selalu dikatakan para penyair dan pepatah-pepatah. Aku berusaha mempercayainya dan mencoba untuk puas dengan hanya memandangimu dari kejauhan. Tanpa pernah mempunyai kesempatan untuk merengkuhmu, menggenggam jemarimu, mengusap pipimu, mengacak rambutmu dan tindakan-tindakan kecil namun mampu mengalirkan sensasi rasa sayang yang membuncah seperti yang dilakukan wanita itu padamu.
Kamu tak pernah tahu, seberapa keras aku menahan diriku untuk tak berlari ke arahmu dan memelukmu. Betapa inginnya aku meneriakkan seluruh perasaan yang selama ini menumpuk dan terpendam jauh begitu dalam di hatiku.
Pernah suatu saat, kau menyapaku. Kemudian menanyakan keberadaan guru yang sedang mengajar pada saat itu, karena kau berniat bolos untuk menyaksikan penampilan kekasihmu di kompetisi yang diikutinya di sekolah. Ya, statusku hanyalah seorang-teman-sekelas-yang-tak-pernah-bisa-menyapanya-apabila-tak-disapa-terlebih-dulu. Dan aku bukanlah sebuah alasan yang bisa membuatnya lebih memilih bolos di saat jam belajar-mengajar berlangsung. Aku bukanlah wanita yang di prioritaskan olehnya, seperti dia selalu menomorsatukan kekasihnya itu. Karena aku memang bukan siapa-siapa.
Tapi aku memilih untuk merasa puas. Puas karena dia memilihku sebagai tempat bertanya. Puas karena dia membutuhkan sedikit informasi dariku. Puas karena dia mengetahui namaku. Karena namaku terdengar lebih indah ketika dia yang menyebutnya. Ya, aku bersyukur karena dilahirkan sebagai wanita yang selalu merasa puas akan apa yang kuterima. Hanya dalam kasus ini tentunya.
Namun... Sampai kapan? Sampai kapan aku harus terus merasa puas dengan kepuasanku sendiri? Sampai kapan aku bisa merasa puas hanya dengan status teman-sekelas-yang-tak-kau-kenali-lebih-dalam?
Andai saja saat itu pertanyaan yang terlontar dari mulutmu adalah apakah aku mempunyai perasaan yang berbeda padamu. Apakah selama ini aku diam-diam memperhatikanmu. Apakah selama ini aku bisa dengan mudah mengabaikan keberadaanmu. Tentuk aku tak akan mengelak. Karena dengan sedikit pancingan darimu, aku akan dengan mudah menyatakan perasaanku. Aku tak pernah menganggap wanita yang menyatakan perasaan lebih dulu itu salah. Hei... Sekarang 2013!!
Sudah cukup lama bagiku mencintaimu bagai langit mendung yang enggan untuk menumpahkan seluruh muatan yang dibendungnya. Tak mudah bagiku mengagumimu layaknya itik yang tak sudi masuk ke dalam kolam susu. Bukan karena merasa angkuh, namun sebaliknya, aku merasa tak layak, tak pantas. Sebatas menjadi pengagummu pun aku merasa tak pantas. Aku memang begitu pengecut. Tak pernah berani menghadapi pangeran tampan sepertimu dan mengakui perasaanku. Aku hanya.... Khawatir. Khawatir bila kau malah semakin tak menyukaiku. Khawatir kau malah menganggapku sebagai kuman yang tak seharusnya berada disekitarmu. Aku tak pernah menginginkan kau membalas perasaanku. Yang kuingin hanyalah kau mengetahui perasaanku. Sedikit menganggap keberadaanku. Sedikit menoleh kepadaku. Sedikit menaruh perhatian padaku.
Sederhana bukan? Karena aku tak pernah meminta lebih. Aku selalu meminta hal-hal kecil yang sudah cukup membuatku bahagia. Aku tak ingin merasa terlalu bahagia, karena aku ingin menikmati sedikit demi sedikit sensasi kebahagiaan itu sendiri.
Begitu sulitkah bagimu untuk mengabulkan keinginanku yang sederhana ini? Haruskah aku tetap diam? Memendamnya sendiri. Menyimpannya bagiku sendiri.


Karya  : Lidya Christin Silalahi

Sumber: http://martabakmietelor.blogspot.com/2013/07/haruskah-kusimpan-sendiri.html

Friendship and Love (Truth or Dare)


“Sekarang, giliran lo nih.” Kata Vanya kepada Vino.
            “Truth or dare?” Sambung Vanya.
            “Gue pilih dare, deh.” Tukas Vino.
            Avanya Riandini dan Alvino Diraga sedang memainkan permainan kesukaan mereka sejak kecil. Truth or Dare. Mereka selalu melakukan permainan ini kala mereka kehabisan bahan pembicaraan. Mereka telah bersahabat sejak duduk di bangku taman kanak-kanak. Dan rumah mereka juga tidak berjauhan karena berada dalam satu kawasan perumahan.
            Kini mereka telah duduk di bangku SMA. Keduanya sama-sama kelas 2 SMA tahun ini. Karena mereka baru saja naik kelas dan sekarang sedang menikmati liburan panjang yang membosankan, karena kedua orangtua mereka sedang sibuk dan tidak berniat untuk mengajak keduanya pergi berlibur. Jadilah mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua saja.
            Sekarang mereka sedang berada di taman yang terletak tidak jauh dari kawasan perumahan mereka. Mereka memilih duduk di rumput-rumput hijau yang terlihat segar dibanding duduk di bangku yang membuat pantat mereka pegal. Dan mereka tengah memainkan permainan Truth or Dare.
            “Kalo gitu.....” Vanya memandang sekeliling sebentar. Sedang memikirkan tantangan apa yang harus diberikan pada sahabatnya ini. Dan, aha! Dia mendapatkan ide gila ketika melihat dua orang wanita seumuran mereka sedang duduk di bangku taman.
            “Lo datengin tuh cewek dua.” Vanya menunjuk wanita-wanita imut yang sedang asyik cekikikan dibangku taman tak jauh dari tempat mereka duduk. 
            “Hah? Ngapain?” Vino bingung, apa sebenarnya yang ada dipikiran Vanya.
            “Hihihi... Ya, lo minta nomor hape salah satu dari mereka. Kalo lo berhasil, gue akuin keberanian lo!” Kata Vanya masih sambil tertawa geli. Ia tahu, Vino tidak suka melakukan hal-hal yang sering dilakukan cowok-cowok ganjen yang suka menggoda cewek-cewek imut nan manis. Tapi, itu tantangan darinya. Siapa suruh Vino memilih dare, kata Vanya dalam hati. Mereka memang selalu seperti itu, selalu menggunakan ide-ide gila untuk menantang satu sama lain saat memilih dare. Dan akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan konyol dan bodoh jika memilih truth.
            “Ah! Lo kebiasaan nih, nggak ada yang lain apa?” Vino memasang raut memohon. Ia sama sekali tak suka mendekati wanita yang tak dikenalnya apalagi harus meminta nomor ponselnya.
            “Nggak. Lakuin, atau lo gue anggep pecundang!” Tukas Vanya. Ia juga penasaran, apakah Vino akan mendapatkan nomor wanita itu atau malah mendapat makian karena tiba-tiba meminta nomor orang yang sama sekali tak dikenal.
            “Oke, oke. Awas lo, ya. Ntar gue bales. Nyesel lo, nyuruh gue minta nomor tuh cewek.” Vino dengan jengkel berdiri dari tempatnya duduk sejak sejam yang lalu. Ia melangkahkan kaki menuju bangku yang diduduki kedua wanita imut yang ditunjuk Vanya tadi.
            Vanya menahan senyum di tempatnya duduk, sambil melihat langkah kaki Vino yang dengan gontai menuju ke arah “sang mangsa”. Ia ingin tahu, bagaimana Vino menyelesaikan tantangannya. Dan Vino telah sampai di hadapan kedua target. Vanya melihat Vino menyapa mereka sambil menebarkan senyumnya yang paling mempesona. Vanya mendesis jengkel. Benar-benar sok tampan pria satu itu. Padahal, Vanya memang mengakui ketampanan Vino yang melebihi pria manapun yang ada di sekolahnya. Ia hanya tak suka melihat Vino menebar pesona kepada wanita lain. Bukan karena ia menyukai Vino. Tapi ia merasa bahwa Vino adalah miliknya. Karena selama ini Vino lah sahabat baiknya. Sejak dulu. Sejak mereka masih kecil. Dan akan terus begitu. Tak ada yang boleh mengambil Vino darinya. Dan Vino hanya boleh berteman dengan satu wanita, yaitu dirinya sendiri.
* * *
            Vino mendengus kesal ketika hampir sampai di tempat tujuannya. Ia melangkah perlahan sambil berusaha merubah raut wajahnya yang terlihat jengkel menjadi semanis mungkin. Dan saat tiba dihadapan kedua gadis yang dimaksud Vanya, ia berdehem pelan untuk mendapatkan perhatian.
            “Ehm...” Vino seolah membersihkan kerongkongannya, yang sebenarnya tak terganggu oleh apapun.
            Kedua wanita yang tadinya sedang seru bercerita mendadak berhenti berbicara. Mereka menoleh ke arah pria-tak-dikenal-dan-ternyata-sangat-TAMPAN yang berdehem tadi. Salah satunya yang berambut panjang dan dikuncir satu ke belakang dengan wajah sangat cantik dan begitu imut, tersenyum ke arah Vino, dan diam-diam meremas tangan teman di sebelahnya.
            Wanita yang genggaman tangannya diremas oleh sahabat disampingnya hanya tersenyum ringan ke arah Vino. Tahu bahwa Vino telah mendapatkan perhatian sepenuhnya dari wanita di sampingnya ini.
            “Gue ganggu kalian ga?” Tanya Vino dengan senyumnya yang menawan, memulai aksinya.
            “Eh.. Ng-nggak kok. Kenapa?” Wanita yang berambut panjang itu menjawab lebih dulu dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
            “Dari tadi gue merhatiin kalian berdua, dan gue tertarik sama lo. Kayaknya lo orang yang menyenangkan. Boleh gue tahu nama lo?” Masih dengan tersenyum, Vino melontarkan kalimat andalan Andre, teman sekelasnya yang terkenal playboy. Andre sering sekali pamer di kelasnya ketika dia mendapatkan pacar baru dengan kalimat andalannya itu. Pertanyaan itu dengan mudahnya dia ucapkan, seakan sudah sering mengucapkannya. Dia sengaja langsung memilih targetnya, karena kelihatannya wanita itu begitu antusias dengan kehadirannya.
            “Oh, gitu. Boleh kok. Gue Tasya.” Tasya segera berdiri dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
            Oh, oh. Wanita ini begitu agresif, pikir Vino.
            Vino menjabat tangan Tasya, “Gue Vino. Kalo temen lo?” Tanyanya, sengaja agar Tasya melepaskan jabatan tangannya yang begitu erat.
            Tasya tersenyum masam ketika Vino melepaskan tangannya, dan terkekeh ketika menoleh ke arah sahabatnya yang menatapnya dengan tatapan “Lo lupa, ada gue disini?”. “Eh, iya. Ini Sandra, temen gue.” Tasya menarik tangan Sandra untuk ikut berdiri.
            “Vino.”
“Sandra.”
Vino dan Sandra berjabat tangan.
            “Eh, gue ga bisa lama-lama nih. Ditungguin sepupu gue, disana.” Sambung Vino sambil menunjuk ke arah Vanya. “Gimana kalo kita tukeran nomor handphone aja, biar bisa ketemuan lain kali?” Vino sudah tidak sabar ingin menyelesaikan tantangan ini.
            “Boleh deh.” Tasya dengan sigap mengeluarkan ponsel yang berada di saku jaketnya.
            Setelah selesai bertukar nomor. Vino pamit ingin kembali ke tempatnya semula, dengan alasan sepupunya akan merajuk jika ditinggal terlalu lama.
            “Kalo gitu gue duluan ya, sampai ketemu lagi.” Vino tersenyum sambil melambaikan tangannya sejenak, lalu berbalik menuju tempat Vanya berada.
            “Iya.. Dadaaah...” Tasya melambai-lambai dengan girang.
            Sandra hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan temannya yang satu ini. Memang begitulah tingkah Tasya bila berkenalan dengan pria tampan selama mereka berteman. Tasya memiliki wajah yang manis sehingga dengan mudah menarik perhatian para lelaki dan minat mereka untuk berkenalan dengan Tasya. Termasuk Vino, pikir Sandra.
            “Dia cakep banget ya, San.” Kata Tasya masih dengan senyum mengembang lebar di wajahnya.
            “Iya. Dia orang ke 1024 yang lo bilang gitu.” Sahut Sandra cuek.
            “Yeee... Lo mah selalu gitu. Nggak bisa ikut seneng ngeliat temennya seneng.”
            “Terserah lo, deh.” Sandra tak ingin berdebat. Ia berusaha mencari topik pembicaraan lain, agar temannya ini melupakan Vino sejenak.
            “Eh, terus gimana sama rencana liburan lo ke Lombok?”
            “Ah, iya. Gue sampe lupa, tadi kita lagi bahas itu, ya? Ya gitu deh, gue pengennya bareng sama nyokab-bokab. Jadi mesti nunggu beberapa hari lagi.” Tasya kembali melanjutkan ceritanya yang tadi terpotong karena deheman seorang pria tampan. Diam-diam Sandra merasa lega karena Tasya tak lagi membahas Vino. Karena bila sudah membahas seorang pria, tak akan pernah ada habisnya bagi Tasya.
* * *
            Vanya tersenyum sinis ketika melihat Vino kembali duduk ditempatnya semula dengan senyum penuh kemenangan. Sial! Vanya mengumpat dalam hati, tidak biasanya Vino menyanggupi tantangan semacam tadi, dan yang menjadi kejutan adalah dia berhasil!
            “Gimana? Puas lo?” Tanya Vino dengan senyum mengejek.
            “Iya deh iya. Lo berani. Lo hebat.” Vanya dengan terpaksa mengakui keberanian Vino.
            “Tuh cewek manis banget, sih. Gampang diajak kenalan juga. Hahaha.”
            “Ah, lo sok kecakepan banget tadi. Enek gue ngeliatnya.”
            “Emang gue cakep.”
            “Ckck kadar ke-pedean lo meningkat drastis, bung.” Vanya menggeleng-geleng tak percaya.
            “Biarin. Kapan-kapan, gue mau ajak tuh cewek jalan, ah.” Vino mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Menekan-nekan layar handphone nya dengan lagak sok serius.
            Vanya mendelik ke arah Vino. Apa maksudnya? Apa Vino benar-benar akan mendekati wanita tadi? Sejak kapan dia mulai tertarik mendekati seorang wanita yang baru dikenalnya?
            Vino yang sadar di tatap begitu tajam dengan jengkel oleh si pemilik mata, mendongak dan bertanya, “Apa?”
            “Lo pengen kencan sama tuh cewek?” Vanya menoleh ke tempat dua wanita genit tadi duduk. Rupanya mereka telah pergi.
            “Iya, kan tadi lo yang nyuruh mintain nomornya. Sayang kan kalo dianggurin.” Vino memainkan alisnya dengan menaik-turunkan alis tebalnya itu. Lalu kembali menunduk dan sibuk dengan ponselnya.
            “Sejak kapan lo suka ngajakin cewek jalan?” Alis Vanya menyatu menandakan keheranannya.
            “Ya, sejak lo tantangin gue tadi.” Jawab Vino tanpa mengangkat kepalanya. Dia begitu sibuk berkutat dengan ponselnya. Tampaknya dia sedang berkirim-kirim pesan dengan seseorang.
            “Lo ngapain sih? Sms-an? Sama cewek tadi?” Tanya Vanya penasaran.
            “Tasya. Namanya Tasya.” Vino masih sibuk mengetik-ngetik balasan pesannya.
            Vanya merasa kesal diabaikan begitu. Dan ia pun mulai menyesali tantangan yang diberikannya tadi. Kalau saja ia tidak menantang Vino meminta nomor gadis itu, ia tak akan kehilangan perhatian Vino seperti sekarang ini.
            Tiba-tiba Vanya berdiri. Membersihkan bagian belakang celana jeans pendek yang dikenakannya dari rumput-rumput kering yang menempel disana.
            “Gue pulang, ah. Bete!” Vanya melirik sebentar ke arah Vino yang masih tak menyadari dirinya yang sudah bersiap akan pergi. Dia mendengus kesal. Lalu benar-benar pergi.
            Vino mengangkat kepalanya, melihat kepergian Vanya. Lalu tertawa geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian kembali asyik dengan ponselnya.
* * *
            Sejak kejadian di taman kompleks kemarin, Vanya sulit sekali menghubungi Vino untuk mengajaknya bermain bersama. Jika Vanya menghubungi ponsel Vino, yang terdengar hanyalah nada panggilan sibuk atau nada pemberitahuan bahwa ponselnya sedang tidak aktif. Pesan-pesan yang dikirimnya pun jarang dibalas.
Dan hari ini Vanya benar-benar bosan berada di rumahnya. Vanya mengirim pesan pada Vino, isinya Vanya ingin mengajak Vino bermain basket di rumah Vino. Vino memiliki lapangan pribadi yang cukup luas di samping rumahnya, lengkap dengan ring basket di ujung kedua sisinya. Vino dan Vanya sering bermain basket di sana jika Vanya sedang main ke sana.
            Tapi balasan pesan singkat yang diterima Vanya begitu membuatnya bertambah kesal.       Sorry, Van. Gue ada janji nonton bareng sama Tasya. Lain kali aja, ya J
            “Ah! Sialan tuh cewek!!” Vanya melemparkan ponselnya ke kasur dengan kasar, hingga terjatuh ke lantai.
Untung saja lantai kamarnya dilengkapi dengan karpet yang cukup tebal sehingga menyelamatkan nasib ponsel itu, karena jika tidak, ponsel malang itu akan hancur dengan mudahnya. Ia menggerutu dalam hati. Ia tak bisa terima jika alasan Vino selama ini tak bisa dihubungi karena wanita ganjen itu.
            Vanya berjalan ke arah meja yang terletak di sudut kamarnya, ia menghidupkan Speaker Box Music nya yang terletak di atas meja tersebut dan telah di pasangkan kartu memory MicroSD yang berisi lagu-lagu favoritnya.
            Vanya memutar lagu Crazy-nya Simple Plan dengan volume tertinggi yang mampu memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya, terkecuali Avanya Riandini. Ia memang suka begitu jika sedang merasa marah ataupun kesal. Baginya suara-suara yang mencapai gelombang ultrasonik itu mampu mewakili amarahnya yang meledak-ledak.
            Vanya memutuskan untuk tidur siang saja, karena tak ada lagi yang bisa ia kerjakan. Tak berapa lama, ia pun terlelap diiringi kebisingan yang diciptakan Bon Jovi dengan lagunya yang bertajuk It’s My Life melalui Speaker Box Music milik Vanya. Dan Vanya tentu tak mendengarkan panggilan Mbok Sumi yang menyuruhnya mengecilkan volume speaker itu. Kalau pun mendengar, tak akan di gubrisnya.
            Cukup sudah! Ini sudah hari ketujuh ia tak bertemu dengan Vino. Vanya benar-benar merasa kesepian dan marah karena telah diabaikan. Bukan karena Vanya tak mempunyai teman lain selain Vino. Hanya saja, selama ini ia selalu menghabiskan waktu dengan Vino. Ia merasa aman dan nyaman juga bahagia jika melakukan segala hal dengan sahabatnya sejak masih kecil itu.
            Baru kali ini Vino mengabaikannya. Dan itu semua pasti karena Tasya brengsek itu! Sudah sejak awal dia tak menyukai wanita itu. Perempuan itu terlihat begitu agresif dan genit. Wajahnya yang imut itu pasti hanya dibuat-buat. Vanya juga bisa melakukan hal seperti itu, hanya saja Vanya tak sudi bersikap seolah dia wanita ganjen yang hobi bermanja-manja dengan pria manapun.
            Vanya memutuskan untuk pergi ke rumah Vino. Ia sengaja tak mengirimkan pesan lebih dulu, karena yakin tak akan mendapat balasan yang diinginkannya. Vanya kembali mematut dirinya di cermin. Dia terlihat sangat cantik dengan setelan yang biasa ia gunakan jika ingin bermain basket. Ia mengenakan kaos hijau cerah berbahan katun dengan tulisan Wanna play with me? berwarna merah darah di depannya, dan celana basket biru. Vanya mengikat rambutnya yang hanya sebahu menjadi satu ikatan ke belakang.
            Setelah merasa penampilannya cukup pas untuk bermain basket, dia mengambil salah satu sepatu kets-nya di rak sepatu di samping lemari pakaiannya. Vanya telah siap. Ia berjalan keluar dari pintu gerbangnya sambil memeluk bola basket di dadanya, dan tas kecil berwarna hijau tersampir di bahunya. Awas saja jika Vino tak ada di rumahnya, batin Vanya.
* * *
            Vanya melempar bola basket yang sejak tadi hanya di drible-nya ke arah ring yang menjulang tinggi dihadapannya.
            BRUKK!
            Tembakan Vanya meleset rupanya. Bagaimana tidak, dia melemparnya dengan sangat kasar. Terlalu kasar malah. Dan penyebabnya adalah Vino sedang tak di rumah, dan kata Bibi yang membukakan gerbang rumah Vino tadi, Vino sedang pergi keluar bersama seorang wanita yang sangat manis.
            Vanya menangkap bolanya yang memantul ke papan ring basket tadi. Ia men-dribel nya beberapa saat. Jadi, sekarang Vino lebih mementingkan wanita itu dibanding dirinya! Benak Vanya dipenuhi begitu banyak spekulasi yang dibuatnya sendiri. Apa-apaan dia! Apa dia marah padaku karena tantangan yang ku berikan beberapa waktu lalu saat Vino memilih dare saat gilirannya? Jika memang begitu, mengapa dia tak memarahiku saja dan bukannya malah mengabaikanku seperti ini!
            Ketika siap melemparkan bola digenggamannya ke arah ring basket dengan sekuat tenaga, tiba-tiba sebuah tangan besar mencengkram lengannya, menghentikan niatnya me-nge-shoot bola tak berdosa tersebut.
            “Kalo nge-shoot pake perhitungan. Jangan seenaknya gitu, mana bisa nyetak poin kalo gitu.” Kata si pemilik tangan besar, yang tidak lain adalah sang pemilik rumah dan juga lapangan serta ring basket, Alvino Diraga.
            Vanya menarik lengannya dengan kasar dari cengkraman tangan Vino. “Suka-suka gue kek.” Kata Vanya ketus. Kembali mengarahkan bolanya untuk di shoot sekencang mungkin. Dan kali ini Vino tak menghalanginya.
            Kini bola yang ditembak Vanya sekuat tenaga ke arah ring basket kembali memantul di papan putih di sekitar ring basket. Dan, astaga! Bola itu terpantul mengarah ke kepala Vanya. Dan sebelum Vanya menyadarinya, bola itu lebih dulu mencium keningnya sehingga membuatnya jatuh tergeletak tak sadarkan diri.
            Vino juga terlambat menyadari datangnya bola tersebut. Ia langsung berjongkok mengangkat kepala Vanya.
            “Van.. Van.. Bangun, Van!” Vino menepuk-nepuk pipi Vanya dengan panik.
            “Van.. Bangun, Van! Vanya...” Vino masih berusaha menyadarkan Vanya, ia begitu khawatir. Wajahnya memucat. Tak tahu harus bagaimana.
            Ketika Vino bersiap mengangkat Vanya, tiba-tiba Vanya mengerang. Ia mulai pulih rupanya. Vino merasa sedikit lega.
            “Van, lo nggak pa-pa kan?” Tanya Vino dengan nada yang terdengar begitu cemas.
            Vanya tak mampu menjawab, ia hanya menggeleng pelan. Vino segera membantu Vanya berdiri, dia mengajak Vanya untuk masuk ke dalam rumah agar bisa istirahat.
            “Nih, minum dulu.” Vino menyodorkan air putih yang dibawakan Bibi.
            Vanya meminum air itu dibantu Vino. Ia hanya meminumnya sedikit. Lalu kembali berbaring di atas tempat tidurnya Vino. Vino membawa Vanya ke kamarnya.
            “Lo, sih! Udah gue bilangin juga, ng-shoot itu pake perhitungan. Gini, kan jadinya.” Vino mengomel sambil meletakkan gelas yang dipegangnya ke atas meja di sampingnya.
            “Truth or dare?” Kata Vanya tiba-tiba.
            Vino mengerutkan keningnya. Bingung. Sempat-sempatnya dia mengajak bermain di saat seperti ini. Benar-benar tak tahu sikon.
            “Ntar aja mainnya, lo istirahat aja dulu.”
            “Truth or dare?” Vanya mengulangi pertanyaannya. Vino mendesah pelan. Ia menyerah.
            “Truth.”
            “Lo jadian sama Tasya?”
            “Kok nanyain Tasya?” sejak tadi Vanya terus membuatnya heran.
            “Jawab aja.” Nada Vanya sangat dingin, tak biasanya dia memberikan pertanyaan yang serius ketika memainkan permainan ini.
            “Nggak.”
            “Kalo gitu, kenapa lo selalu milih sama dia akhir-akhir ini dan nyuekin gue?”
            “Lo cemburu?” Vino penasaran dengan nada Vanya yang terdengar sangat kesal itu.
            “Eh, ng-nggak lah... Ngapain gue cemburu.” Vanya yang tak menduga akan ditanyai pertanyaan semacam itu oleh Vino, menjawab terbata-bata dengan suara yang sangat pelan.
            “Yaudah. Truth or dare?”
            “Truth.”
            “Lo suka sama gue?”
            Vanya mengernyit. Lagi-lagi Vino menanyakan hal aneh. Ada apa dengannya?
“Kok nanyanya gitu?”
            “Jawab aja.”
            Vanya diam. Dia bingung harus menjawab apa. Dia benar-benar tak tahu kemana arah permainan ini. Apa yang diinginkan Vino sebenarnya?
            Vino menghela napas. “Kenapa diem?” Vino sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban Vanya.
            “Gue suka sama lo.” Sambung Vino. Vino memutuskan untuk mengungkapkannya terlebih dulu. Karena dilihatnya Vanya ragu-ragu dan bingung. Vanya tersentak. Matanya yang bulat melebar.
“Selama ini gue deket sama cewek, ya cuma sama lo doang. Karena lo ga pernah ngebiarin gue main sama cewek lain. Dan gue juga nyaman sama cewek, ya cuma sama lo doang. Mungkin karena kita juga udah kenal dari kecil, jadi udah saling ngerti satu sama lain. Dan gue bener-bener bete, pas lo nantangin gue buat minta nomor Tasya. Gue sengaja nyanggupin dan jalan sama dia, biar lo nyesel udah nyuruh gue ngelakuin itu. Tapi, jujur aja. Gue bener-bener ga nyaman pas jalan sama dia, risih gue. Dan gue ngerasa ga jadi diri gue sendiri pas sama dia. Jadi, gimana?” Tanya Vino setelah sekian lama bermonolog. Vanya hanya melongo. Dia masih tak percaya. “Jadi, gimana???” Ulang Vino, sedikit lebih kencang.
“Hah, apanya?” Vanya bingung dengan apa yang dimaksud Vino dengan gimana itu.
“Yee, elo mah lemot. Ya, gimana. Lo udah nyesel belum?” Vino bertanya dengan tampang polos.
“Iya, udah. Nyesel kok.” Jawab Vanya jujur. Dia menundukkan kepalanya.
“Terus, lo suka sama gue, nggak?” Vino mengangkat dagu Vanya dengan tangannya.
Vanya mengangguk dua kali. Vino tersenyum cerah. Kemudian dia menarik Vanya dengan satu gerakan cepat ke pelukannya. Vanya membenamkan wajahnya di bahu Vino.
“Truth or dare?” Tanya Vanya setelah menarik diri dari Vino.
“Dare. Lo masih aja, ya. Hahaha.” Vino tak bisa menahan tawanya.
“Jauhin Tasya.” Pinta Vanya dengan nada serius. Dan itu membuat Vino tertawa geli. Wanita ini benar-benar cemburu rupanya. Tapi setelahnya dia mengangguk pasti.
“Beres, sayaaaang....” Vino kembali memeluk Vanya. Vanya tersenyum puas.

Karya   : Lidya Christin Silalahi
Sumber: http://martabakmietelor.blogspot.com/2013/07/friendship-and-love-truth-or-dare.html

Happiness


Kehidupan memberikan banyak pelajaran yang penting dan berarti bagi setiap orang. Ada banyak cerita dan pengalaman yang menorehkan suka maupun duka di hati sang empunya hidup. Tak semua pengalaman indah dan menarik akan berakhir dengan kisah yang bahagia. Tidak sedikit orang-orang yang terluka setelah sebelumnya mengalami kebahagiaan. Kebahagiaan itu sendiri bersifat sementara. Ketika kamu menikmatinya di awal, maka kamu akan kehilangan kebahagiaan pada akhirnya. Tapi ketika kamu tak mendapatkan kebahagiaan sejak awal, sampai akhir pun kamu tak akan mendapatkannya. 

Yang menentukan hidupmu akan bahagia atau tidak, adalah dirimu sendiri. Bahagia adalah pilihan. Ada banyak alasan untuk membuat seseorang merasa bahagia. Dan alasan itu pulalah yang akan membuatmu terluka. Bagi sebagian orang, kebahagiaan bukan untuk ditunggu kehadirannya, melainkan diciptakan. Menciptakan kebahagiaan bukanlah hal yang sulit. Cukup menyukai atau menaruh ketertarikan terhadap sesuatu, baik itu benda maupun orang lain, maka kamu akan merasa bahagia ketika memilikinya. 

Tapi tidak jarang ada orang yang kesulitan membuat hidupnya bahagia. Karena alasan-alasan tertentu. Mungkin karena ia belum menemukan sesuatu yang dapat membuatnya merasa bahagia. Atau mungkin karena dia memang tak ingin mencari “sesuatu” itu. Terlalu takut jika nanti “sesuatu” itu ditemukan, dan kemudian akan menghilang dengan sendirinya.  


Karya   : Lidya Christin Silalahi
Sumber: http://martabakmietelor.blogspot.com/2013/08/happiness.html

Tak Seperti Dulu

Ketika kita tak lagi saling menyapa. Ketika kita tak lagi saling mengenal. Ketika kita tak lagi bersama. Saat itulah kau baru mencariku. Setelah jarak memisahkan. Setelah keadaan menjadi kacau. Setelah hubungan kita menjadi rumit. Dan kini kau menginginkanku? Kemana saja kau selama ini?

Dulu sewaktu kita mempunyai kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama, tak sekalipun kau hiraukan aku. Aku hanya kau jadikan sebuah ‘pajangan’, yang selalu ada hanya untuk sekedar menyatakan pada orang-orang bahwa kau tak sedang sendiri.

Kehadiranku kau anggap penting namun tak begitu berarti. Karena sesungguhnya kau tak benar-benar membutuhkanku. Jika sedang berada diantara teman-temanmu, aku membisu dan hanya memperhatikan siapa saja yang tengah mengambil alih pembicaraan. Sesekali tersenyum seolah aku menyukai mereka yang bercuap-cuap ria.

Kau juga enggan repot-repot memperdulikan perasaanku. Fokusmu hanya pada mereka, teman-teman kebanggaanmu. Sedangkan aku? Tak pernah sekalipun kau membanggakan aku di depan teman-temanmu.

Dan bodohnya aku, aku tak pernah meluncurkan protes-protes atas apa yang aku rasakan. Aku terlalu takut, takut jika aku mengeluh kau akan langsung meninggalkanku. Saking tahu dirinya aku bahwa aku tak sepenuhnya berarti untukmu. Tak jarang aku meng-kamuflasekan perasaan ‘tidak dianggap’ tersebut pada diriku sendiri. Aku berusaha menghibur diri dengan menganggap seolah-olah kau memang tak pandai menyampaikan rasa sayangmu padaku melalui ucapan bahkan perlakuan.

Tapi, sepertinya kamuflase yang kucipta tak selamanya mampu mendominasi perasaan ini dari rasa sakit bercampur kecewa. Ketika aku tiba di titik lelah, aku memikirkan bagaimana bila aku mengakhiri segala siksaan batin yang kau beri. Bagaimana mungkin batinku tidak tersiksa? Dalam waktu yang terbilang cukup lama sejak kita bersama, tak sekalipun kau memperlakukan aku seperti pria lain memperlakukan gadisnya.

Meski aku mencoba berlapang dada dan menerima ketidak-pekaan dan ketidak-pedulian dirimu, tak bisa dipungkiri hati kecilku meneriakkan kejenuhan yang telah lama terpendam. Jenuh akan kesedihanku. Jenuh akan kesabaranku.

Hingga akhirnya, setelah memikirkannya cukup lama, aku memilih melepasmu. Tak ada gunanya terus bersama dengan orang yang hanya akan menyakitimu. Bukan disakiti secara langsung ataupun fisik, tapi secara tak langsung aku merasa kecewa. Kecewa di dalam hati kecilku.


Mungkin ini keputusan yang tepat. Mungkin dengan perpisahan ini, aku akan lebih menerima ketidak-pedulianmu padaku. Mungkin dengan jalan ini, kau bisa menemukan seseorang yang benar-benar kau sayangi dan kau butuhkan. Semoga takkan ada penyesalan. Dan walau kau menyadari kesalahan-kesalahanmu terdahulu, itu tak akan mengubah apapun. Kita tetap tak bisa kembali bersama. Maaf dan terimakasih untuk segalanya.


Karya    : Lidya Christin Silalahi
Sumber : http://martabakmietelor.blogspot.com/2013/09/tak-seperti-dulu.html